
MINAHASA, RADARNEWSSULUT.COM — Pengambilan Sumpah dan Janji 128 Hukum Tua se Kabupaten Minahasa yang di lantik oleh Bupati Minahasa DR. Robby Dondokambey, S.Si, MAP, didampingi Wakil Bupati Vanda Sarundajang, SS, MAP dan Sekretaris Dearah DR. Lynda Watania, MM, M.Si, bertempat di Wale Ne Tou Tondano, Selasa (14/07/2026/.
Suasana gedung yang tadinya riuh oleh bisik-bisik keluarga dan pendukung, mendadak berubah khidmat. Dari pengeras suara, alunan instrumental lagu “Desaku yang Kucinta” mengalun perlahan. Nada-nada sederhana itu seolah mengetuk pintu kesadaran setiap pemimpin yang hadir.
Lagu itu bukan sekadar pelengkap seremonial. Saat Bupati Minahasa, Dr. Robby Dondokambey, SSi, MAP, melangkah mendekat dan menyematkan pangkat di pundaknya, petikan lirik lagu tersebut seolah menjadi bisikan pengingat akan tanah kelahirannya.
Ada beban yang berat, namun ada cinta yang lebih besar di dalam debaran dadanya. Tanda pangkat itu disematkan, dan dengan itu, babak baru pengabdian Nicolaus resmi dimulai.
Bupati Robby Dondokambey, dalam arahannya yang menyentuh sisi humanis, mengingatkan para hukum tua bahwa jabatan ini adalah titipan keluhuran budi, bukan alat kekuasaan.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemkab Minahasa, saya mengucapkan selamat kepada para hukum tua. Kiranya amanah rakyat dapat dijalankan dengan pengabdian yang tulus,” ucap Bupati Robby.
Ia menekankan bahwa sumpah yang diucapkan adalah janji vertikal dan horisontal.
“Ini amanah yang besar dari Tuhan Yang Maha Esa dan negara. Jalankan dengan hati yang tulus, pikiran yang bijaksana, serta tindakan yang adil. Kontestasi sudah selesai, hari ini tidak ada lagi kelompok-kelompok. Saling menghormati, bersama-sama membangun desa. Jadilah hukum tua yang mampu memupuk persatuan, bukan pecah belah,” tegas Bupati, meminta keharmonisan mutlak di tingkat akar rumput.
Mendengar arahan tersebut, Nicolaus Tangapo tidak melihatnya sebagai instruksi birokrasi biasa, melainkan sebuah panggilan jiwa.
Memegang erat map merah dokumen pelantikannya, ia merefleksikan langkah pertama yang akan diambilnya begitu menginjakkan kaki kembali di Pineleng Dua.
Ia sadar, gesekan selama masa pemilihan sering kali meninggalkan goresan di hati warganya. Target utamanya bukanlah merombak fisik desa, melainkan menyatukan hati yang sempat terbelah.
”Bagi saya pribadi, arahan Bapak Bupati adalah komitmen yang harus wujud nyata di Pineleng Dua. Mulai hari ini, tidak ada lagi pendukung Nicolaus atau pendukung calon lain. Kotak-kotak itu sudah runtuh. Saya berdiri di sini sebagai pelayan bagi seluruh masyarakat desa tanpa terkecuali. Kami akan saling menghormati dan berjalan beriringan,” tutur Nicolaus dengan ketegasan yang ramah.
Suami Sherly Manoppo ini tidak ingin menjadi pemimpin yang hanya duduk di balik meja. Sinergi yang diminta oleh Bupati akan ia mulai dari bawah.
“Saya akan merangkul BPD, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat. Saya ingin mendengar langsung detak jantung kebutuhan warga. Pintu rumah saya akan selalu terbuka untuk dialog, karena desa ini milik kita bersama, bukan milik hukum tua saja,” tutur dia.
Nicolaus juga berkomitmen penuh untuk menjaga irama pembangunan agar tetap satu garis komando dengan visi Pemerintah Kabupaten.
”Kami akan selalu berkoordinasi dan membangun komunikasi yang baik dengan Pemkab Minahasa. Pembangunan di Pineleng Dua harus searah dengan program daerah agar dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat secara maksimal,” pungkasnya.
Ketika prosesi berakhir dan Gedung Wale ne Tou perlahan mulai sepi, Nicolaus melangkah keluar menuju kendaraan yang akan membawanya pulang ke Pineleng Dua. Langkahnya mantap.
Baginya, seragam putih ini mungkin akan kotor oleh debu-debu pekerjaan di desa, tetapi komitmen dan ketulusan hatinya untuk masyarakat akan tetap dijaga bersih.
(ROCKY)
