
MANADO, RADARNEWSSULUT.COM — Apes benar nasib Dosen Universitas Sam Ratulangi Manado Agus Supandi Soegoto. Nasabah BRI ini mengalami kehilangan uang senilai kurang lebih Rp.49 juta dari rekening BRI miliknya. Peristiwa itu bermula ketika orang tak dikenal menelpon Agus dengan mengaku sebagai personil DJP Tanjung Batu.
“Dia menyuruh saya membayar bea materai dengan cara masuk ke aplikasi tapi saya tolak, karena permintaannya beberapa kali tidak diikuti, dia katakan saya dipenalti 70% dari dana rekening, saya katakan tidak mau dipenalti, karena hanya berbicara bea meterai. Dikatakan karena Agus tidak ada kerjasama maka rekening BRI sudah diambil Rp.49,022,377,- diminta periksa notifikasi, dan ternyata benar di sms banking BRI disampaikan dana Rp.49,022,377,- keluar. Lalu saya matikan HP, dan segera mendatangi kantor BRI untuk mengecek langsung kondisi saldo. Setelah mengetahui isi saldo terkuras, CS BRI mengarahkan untuk melapor ke Polisi. Hari Sabtu Agus kembali datang melapor ke BRI Cab. Manado tapi hanya dilayani Satpam untuk melapor ke BRI Call Centre, petugas BRI call centre beberapa kali menolak alasan karena nama ibu kandung yang disampaikan salah, karena sudah 4x ditolak diarahkan menghubungi CS BRI untuk sinkronisasi data. Setelah sinkronisasi Agus menelpon lagi, tapi ditolak. Hari Senin Agus datang ke BRI Unsrat dan oleh CS diminta mengajukan pengaduan melalui email.
“Semua sudah saya lakukan. Kirim pengaduan ke BRI juga sudah. Namun jawab dari BRI juga mengecewakan. Masa uang nasabah hilang bukan karena transaksi yang dilakukan nasabah, BRI merasa berat. Itu kan hilang bukan karena ditarik nasabah tapi oknum lain yang menurut saya pelaku skimming bank. Nah harusnya itu tanggung jawab keamanan ada di BRI bukan kita sebagai nasabah,” apalagi pemindahan dana melalui BRImo sementara selama ini saya tidak pernah pakai BRImo ungkap Agus.
Sementara itu dari jawaban BRI melalui pengaduan email yang dipelihatkan Agus ke redaksi, tertulis bahwa terkait dengan pengaduan Agus, hasil investigasi BRI, nasabah Agus menjadi korban dengan modus social engineering.
“Saat ini permintaan Bapak/Ibu terkait pengembalian dana , dengan berat hati belum dapat kami penuhi,” jawab BRI.
Social Engineering
Maraknya kejahatan perbankan yang dilakukan melalui Online, BRI mengingatkan nasabah harus waspada. Salah satunya adalah modus Social Engineering, yaitu suatu teknik memanipulasi korban untuk mendapatkan informasi pribadi atau mengakses suatu akun. Agar terhindar dari modus Social Engineering tersebut, yuk kenali 4 modus Social Engineering berikut:
Info perubahan tarif transfer Bank
Akun layanan konsumen palsu
Tawaran menjadi Nasabah Prioritas
Tawaran menjadi Agen laku pandai
Selalu berhati-hati, akun media sosial resmi BRI hanya yang bercentang biru (Verified) dan pastikan selalu menjaga kerahasiaan PIN, OTP, Password, nomor CVV/CVC, m-Token dari siapa pun.
Kembali kepada persoalan Agus, dirinya menyatakan tidak pernah menerima tawaran di atas.
“Saya sama sekali tidak menerima tawaran seperti itu sehingga dicurigai korban Social Engineering”. Jadi ini murni pelaku kejahatan yang membobol system perbankan. Makanya saya minta BRI bertangung jawab. Itu gaji, uang penelitian dan PKM yang saya harus pertanggungjawabkan sesuai kontrak dan sebagai dosen Unsrat,” jelas Agus.
Hingga berita ini di publis, redaksi masih berupaya menghubungi pihak BRI untuk diminta klarifikasi.
(*)
