
RATATOTOK, RADARNEWSSULUT.COM — Terkait permasalahan yang terus menerus terjadi di kawasan pertambangan tanpa Izin, sontak membuat Keberadaan personil TNI AD di kawasan pertambangan ilegal terus meresahkan. Selain kerap mengancam warga, keberadaan para prajurit ini justru memicu kegaduhan karena membuat onar kemudian membuang tembakan di hadapan warga.
“Rakyat menggaji TNI bukan untuk buang – buang tembakan unyuk menakuti warga yang bekerja mencari nafkah. apalagi buang tembakan di atas lahan tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP) Kementerian. Itu perbuatan mencela hati nurani rakyat,” ujar Jemmy M, salah satu penambang yang merasa terganggu dengan kehadiran oknum Brigadir Mobil Kelapa Dua dan personil TNI AD di wilayah Nona Hoa, Ratatotok, Selasa (4/8/2026).
Jemmy menjelaskan, aktivitas warga Ratatotok yang menggali material emas sempat kacau balau akibat diganggu komplotan Brigadir Mobil (Brimob) Kelapa Dua dan beberapa personil TNI. Gerombolan aparat tak diundang itu masuk secara ilegal pada Senin (3/8/2026), lalu membuang tembakan membabi buta di lahan milik warga, wilayah Nona Hoa, Ratatotok, Minahasa Tenggara. Tindakan biadap sekelompok aparat ini membuat para pencari kerja marah besar karena merusak konsentrasi kerja anggota masyarakat Ratatotok.
“Kami ini warga asli Ratatotok yang mencari uang bekerja di lahan tambang. Hanya mencari nafkah Rp250 ribu tiap hari. Sementara kerja tiba – tiba muncul Brimob Kelapa Dua dan anggota TNI main buang tembakan. Sebenarnya mereka itu siapa? Siapa yang bayar mereka untuk datang usir warga asli?,” ujar Jemy.
Menyikapi insiden tembakan liar di lokasi tambang itu , warga Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIII/Merdeka saat ini dijabat oleh Mayor Jenderal TNI Mirza Agus, S.I.P. untuk segera menarik personil TNI.
“Rakyat tidak butuh tentara di lahan tambang. Apalagi tentaranya cuma bikin keonaran. Tolong Jenderal (Pangdam,red) tarik semua supaya rakyat aman,” pesan Jemy.
Ia juga meminta Gubernur Sulut Yulius Selvanus agar membantu membangun komunikasi dengan Kapolri dan Panglima TNI untuk segera mengamankan pasukan agar tidak mengganggu masyarakat yang mencari nafkah di lokasi tambang.
Ia menambahkan, kemungkinan besar PT Minselano adalah pihak yang menghadirkan gerombolan anggota Brimob dan TNI di lokasi tersebut.
” IUP Minselano sudah lama mati. Terus kenapa aparat datang lagi ke sini? Untuk tujuan apa ke sini? Bikin kacau lokasi tambang?,” teriak warga.
“Kami mencari nafkah di tanah warga Ratatotok pak. bukan di atas tanah negara. mohon tertibkan aparat agar tidak mengganggu masyarakat yang fokus bekerja,” pesan Jemy mewakili semua pekerja tambang Nona Hoa, Ratatotok.
Hingga berita ini ditayangkan, redaksi masih berupaya mencari tanggapan Gubernur Yulius Selvanus dan melakukan konfirmasi ke Pangdam XIII Merdeka.
(***)
