
MANADO, RADARNWESSULUT.COM — Beredar di Media Sosial (Medsos) dimana salah petinggi Partai Gerindra Harvani Boki masuk dalam lingkaran gurita kepentingan yang selama ini membawah bawah nama Gubernur YSK bersama beberapa orang dekat lainnya, demi kepentingan pribadi.
Diunggah oleh salah satu akun Facebook bernama Samsul Malonda dimana dalam tulisan berisi sebagai berikut:
Oleh: Samsul Malonda
Edisi: Investigasi Khusus Sulawesi Utara
# BONGKAR! Gurita Kepentingan
“Lingkaran Parasit” Gagal Tembus Benteng Doa dan Intuisi Gubernur Sulut Yulius Selvanus
Niat hati ingin memonopoli kekuasaan dan mengeruk keuntungan dari pusaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), sebuah kelompok yang dijuluki “Lingkaran Parasit” justru gigit jari. Skenario rapi yang dibangun oleh oknum-oknum yang selama ini terlihat berada di ring satu Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, akhirnya runtuh.
Usut punya usut, kegagalan gurita kepentingan duniawi ini tidak lepas dari kuatnya doa orang-orang terdekat Gubernur agar sang pemimpin terhindar dari niat busuk para pencari rente.
Praktik Janji Manis Jabatan dan Skenario “ATM Berjalan”.
Investigasi Beritainvestigasinewsviral menguak fakta mencengangkan dari rentetan curhatan para korban yang merasa tertipu oleh kedekatan semu. Salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi korban janji manis jabatan akhirnya buka suara.
“Sejak kemenangan Gubernur Yulius Selvanus, saya dan beberapa rekan sudah menyetor sejumlah uang kepada oknum berinisial HB yang mengaku memegang ‘dapur kemenangan’ Gubernur. HB berjanji akan memberikan jabatan pasti. Tapi setiap pelantikan, nama saya tak kunjung ada,” ungkap sumber yang enggan dimunculkan namanya ini dengan nada kecewa.
Tidak hanya HB, inisial lain yang mencuat adalah CL. Pria ini menjadikan para pengusaha dan pihak lain sebagai “ATM berjalan”. Dengan modal flexing kedekatan dengan pimpinan tertinggi, CL kerap meminta dukungan dana untuk proyek-proyek lapangan yang diklaimnya berada di bawah kendalinya. Para korban yang awalnya terbuai akhirnya sadar bahwa mereka telah terjebak dalam lingkaran parasit yang hanya memeras kantong mereka.
Skenario Tingkat Tinggi: Menjual Nama Kembaran Kapolda
Modus kelompok ini terbilang sangat rapi dan berani. Informan di lapangan membeberkan kisah manipulatif yang melibatkan HB, CL, dan seorang figur yang merupakan kembaran dari Kapolda.
Dalam sebuah skenario untuk meloloskan proyek dan meyakinkan para kontraktor, kelompok ini membuat teater video call. Seolah-olah mereka sedang berkoordinasi langsung dengan Kapolda untuk memberikan jaminan keamanan proyek, padahal sosok di layar tersebut hanyalah sang kembaran. HB bahkan dengan pongahnya kerap mengklaim bahwa dirinya mampu “mengontrol pikiran” Gubernur Sulut untuk memuluskan semua agenda mereka.
“Indra Keenam” Gubernur dan Tumbangnya Para Parasit
Klaim HB bahwa ia bisa mengontrol Gubernur ternyata pepesan kosong. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Staf Khusus kepercayaan Gubernur, yakni NW, RZ, dan MM.
Mereka menegaskan bahwa Gubernur Yulius Selvanus memiliki intuisi tajam bak “indra keenam” dalam menilai orang.
“Jangan kira karena terlihat dekat, lantas semua yang mereka sampaikan itu benar, apalagi jika niat dan caranya sudah tidak wajar. Apa yang terjadi sekarang sudah sangat baik. Kegagalan para oknum yang ingin mengambil keuntungan itu digagalkan oleh moral mereka sendiri,” tegas salah satu Stafsus Gubernur.
Doa dari keluarga dan orang-orang terdekat yang tulus menjaga Gubernur dari kepentingan duniawi terbukti menjadi tameng yang kuat. Kini, para ASN yang sempat menyetor pundi-pundi rupiah kepada HB dan kawanannya hanya bisa menggerutu karena gagal promosi. Kelompok parasit ini terbukti hanya menampung kekayaan dari orang bawah tanpa bisa mengintervensi kebijakan Gubernur yang menginginkan daerah yang stabil, terarah, dan bersih.
Serangan Balik “Wartawan Bodreks” dan Jejak Digital Asusila
Menyadari pengaruhnya mulai tergerus dan aksesnya diputus oleh Gubernur yang menempatkan orang-orang tepat di birokrasi, kubu HB dan CL tidak tinggal diam. Dikabarkan, tim parasit ini mulai mendanai sejumlah “wartawan bodreks” (wartawan tanpa legalitas dan integritas jelas) untuk menyerang eksistensi tim resmi Gubernur.
Tujuan serangan media bayaran ini adalah untuk mengganggu kestabilan birokrasi dan pihak eksternal pemerintah yang sedang harmonis. Kebocoran strategi kotor ini diungkapkan oleh RM, salah satu wartawan senior PWI Manado, yang membenarkan adanya aliran dana untuk menyerang siapa pun yang benar-benar dekat dan bekerja tulus untuk Gubernur.
Namun, alih-alih berhasil menjatuhkan tim Gubernur, sorotan publik kini justru berbalik menelanjangi rekam jejak digital kubu HB dan CL. Investigasi mendeteksi adanya jejak kelam yang melibatkan mereka dalam kasus-kasus asusila, permainan manipulatif jabatan, hingga komitmen proyek yang abnormal.
Ketegasan Gubernur Yulius Selvanus dalam membangun birokrasi yang sehat kini mulai terlihat hasilnya. Dengan tersingkirnya para “parasit” penjual nama, roda pemerintahan Sulawesi Utara diharapkan dapat berjalan lebih bersih, stabil, dan jauh dari intervensi oknum bermoral rendah.
Radaksi pun langsung melakukan konfirnasi terkait isu liar di sosmed, tak butuh waktu lama, Harvani Boki langsung memberikan keterangan balasan dimana pemeberitaan di media sosial itu tidak benar adanya,” Informasi tersebut tidak benar dan sdh menyerang scr pribadi.
“Informasi tersebut tidak benar dan sdh menyerang scr pribadi, ” tulis Harvani singkat.
(***)
